Minggu, 15 Juli 2012

Baju yg kancingnya lepas satu

Senja..

dasar jakarta, masih saja deru kendaraan seperti genderang perang.

dasar jakarta, saat waktu mendekati lelah, masih saja membuat kegaduhan.

air panas,, aku butuh air panas,, walaupun jakarta pengap, tetap saja aku menggigil.

hhiiyyy,, dingin, jantungku dingin, dadaku sesak,

mandi, aku butuh mandi.

hooahh,, segar,, gigi yg putih, piyama yg putih, rambut yg rapi,, akhirnya, pergulatanku dengan rasa gerah terlewati.

saatnya tengkurap.


tengkurap? telungkup atau apalah namanya itu.

nyaman kurasa tempat tidur ini, lampu yg tidak begitu terang, AC yg sedang, selimut yg bersih,  buatku tak ayal memikirkan jam jam terbaik yg telah aku lewati.


sebuah presentasi,

sukses,

kantong mereka pun terisi.

yaa, aku memang bekerja dengan mobilitas tinggi,

dengan resiko yg tak semua orang mengerti.

dengan seribu senyum yg wajib aku beri walau perut ini meronta ronta,

aku mengisi kantong para elite dgn harapan.

aku bertugas membesarbesarkan keadaan.

yes, it's me..


kamar ini cukup nyaman, walau pintu kamar mandinya rusak.

air panas masih berfungsi, walau di wastafel masih ada sisa rambut.

kubasuh wajah, kupandangi dengan raut penuh tanda tanya..

siapkah aku??


aku pun menghidupkan tv, acara apa ya? haah, dasar jakarta, menonton tv saja aku harus berlomba dengan kebisingan.

ku campakkan saja remotenya,

aku pun tengkurap.

mencoba menghilangkan nyeri di dada dan jantungku dengan menekannya.

ahhh,,,,


pass memang aku pakai baju ini, bahannya nyaman.

baru saja jiwaku hendak berpindah dimensi,

ketika tangan besar dan kasar menyentuh kepalaku.


tangan yg besar, tangan yg hampir menutupi tempurung kepalaku.

tp dengan tangan itu aku malah seperti memakai topi, nyaman.

biarlah, toh memang tangan itu aku nantikan.

aku pun terlena,


dan waktupun terhenti,


dasar,

sipemilik tangan besar memang selalu buat nyaman.:-)

ga bisa aku hentikan tersenyum,

waktu tidurku pun lenyaplah sudah.


si tangan besar pergi, katanya lapar, biarlah, aku tak lapar. jakarta sudah buatku kenyank. kalau bukan karena sitangan besar dan kantong2 kelaparan itu. aku malas.


ku rapihkan piyamaku, nyaman, piyama lengan pendek yg berkancing 5.

satu satu aku rapihkan,

ternyata...


kancingnya hilang satu,


kucari dimanapun sekitar tempat tidur, di tas, wastafel,

tidak ada,

ahh, aku benci jika kancingnya hilang,

aku serasa kehilangan sesuatu,

hidupku tak lengkap.

mana kancing piyama kesayanganku?


jakarta hening,

mungkin sudah tengah malam fikirku,

aku gelisah karena kancing bajuku yg hilang,

aku merasa tidak nyaman.


tangan? yaa tangan??

tangan siapa yg merebutnya dariku?

yg merebut kancingku?

yg menghilangkan sebagian rasa nyamanku.


aku lihat sitangan besar kembali,

wajah kenyank, rasa puas, tp tetap tersenyum.

dasar, dia memang anak manis.

biasanya aku yg paling manis, tp aku rasa saat ini dia paling manis.


sejenak aku lupa kancingku, sitangan besar merengkuhku,

wajahnya pucat, layu,

sepertinyan lelah, tp tetap tersenyum.

akupun menyuruhnya tidur.

dasar sitangan besar,

indonesia mungkin membuatnya lelah.

berkeliling indonesia pasti buatnya butuh kenyamanan dan istirahat. aku memeluknya.

saatnya kuhentikan waktu sejenak.

wajahnya disiram lampu kamar yg redup,

kulihat matanya layu, lelah.

benakku, APA KAU BEGITU TERLUKA HINGGA DIHADAPANKU PUN KAU BEGITU RAPUH??


tidurlah.

saat kau lelap, aku akan kembali mencari kancingku yg hilang.

piyamaku terbuka, jd tak nyaman.


1 jam, 2 jam, tak juga kutemukan.

akhirnta kuputuskan untuk melanjutkan pencarian esok,

dadaku sesak, nafasku panas, jantungku berdetak cepat.

tak ingin aku membangunkannya.

aku memilih duduk, menahan rasa sakitny dengan mendengarkan lagu2 pavoritku di hp.

musik memang obat yg cukup manjur.

aku benci obat, dan aku tidak membawanya.


pagi. 03:00

tak terasa. aku terlelap,


azan terakhir membangunkanku

kulihat dia masih pulas, selimut dibawah kakinya, tangan di atas dadanya.

aku hampiri dan bermaksud menyelimutinya,

jakarta jadi begitu dingin.

baru saja aku tarik selimut itu, dan memindahkan tanganya perlahan,

benda kecil bundar berlubang jatuh dari genggamannya.


ahhh, ternyata dia yg membawa kancingku,

dia yg mengambilnya dariku,

dia yg telah menyentuh pakaianku.


jakarta,

cerita tentang kancing yg hilang satu.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar