Powered By Blogger

Senin, 23 Juli 2012

Matahari 1 mei

Matahari Tanggal 1 Mei


Seorang pemuda dari sebuah organisasi bawah tanah tiba-tiba saja membuat panik warga, ia terlihat berlari kesetanan seperti dikejar oleh sekawanan anjing liar yang lapar dengan daging segar yang berada dibalik kulit pemuda bernama Fajar Nusantara. Orang-orang yang tidak tahu sebab musababnya mengapa pemuda itu sampai berlari sekencang mungkin hanya mendengar suara buru-memburu dari nafasnya pemuda berambut gondrong tersebut.


"Ada apa ini?" "Kenapa dia berlari begitu kencangnya?" "Apa dia itu seorang maling?"


Ungkap sejumlah warga dari dalam hati yang keheranan melihat Fajar berlari bak kesetanan itu.


Tapi pertanyaan itu langsung terjawab seketika, satu pleton pasukan berpakaian loreng dengan berkendara jeep dan truk bermuatan penuh tentara tiba-tiba saja masuk ke kawasan padat penduduk dengan menenteng senjata api lengkap buatan dari negara pemenang perang dunia kedua terlihat mencari-cari Fajar.


"Dimana pemuda itu?"


Tanya seorang pria bernama Sarwo dengan nada membentak kearah kerumunan penduduk yang sedang kebingungan.


Jika diperhatikan dari paras fisiknya, pada raut wajah komandan yang memimpin 30 pasukan tersebut terlihat keras. Pada pipinya terlihat sedikit kempot, namun tulang pipinya cukup menonjol. Jika diperhatikan secara seksama tidak ada sedikitpun kesan ramah terpancar dari air muka Sarwo, sehingga penduduk kawasan Medan Area tersebut langsung was-was dibuatnya.


Selain itu juga, Sarwo juga dikenal cukup sadis dalam menangani perintah negara. Ia sempat santer diberitakan dimedia massa sebagai dalang dari penculikan dan pembunuhan petani yang terlibat konflik agraria dengan perusahaan asing. Selain itu ia juga sempat memerintahkan untuk menembak sejumlah mahasiswa yang melakukan demonstrasi menetang kebijakan pemerintah, sehingga cukup banyak memakan korban.


Namun, akibat perbuatan yang pernah dilakukannya itu ia tidak pernah dihukum apalagi sampai dipenjara. Pasalnya konspirasi politik menganggapnya prosedur yang dilakukan oleh komandan berpangkat Letnan itu sudah benar.


"Apa kalian semua tuli ya?" "Atau kalian tidak melihat seorang musuh negara berlari kearah sini?" "Atau kalian semua bersekongkol dengannya karena kalian semua adalah anggota dari perkumpulan organisasi Teratai Merah, sehingga kalian menyembunyikannya?" Bentak Sarwo kearah kerumunan penduduk.


Mendengar pertanyaan dari Sarwo, pertanyaan yang membenak dibatin penduduk ketika melihat Fajar berlari ketakutan tadi terjawablah sudah, tanpa diduga Fajar ternyata salah seorang dari perkumpulan rahasia Teratai Merah yang sangat santer digadang-gadang sebagai teroris oleh pemerintah.


Namun sepengetahuan penduduk disana Fajar adalah seorang pemuda yang dikenal sangat apolitik sehingga semakin bingunglah mereka. Sebab seperti yang diketahui dari sosok Fajar, ia hanyalah seorang pekerja swasta ditoko percetakan milik seorang pengusaha etnis Cina. Selain itu ia juga diketahui sebagai lulusan salah satu perguruan tinggi swasta dikota Medan jurusan sastra.


Atas sepengetahuan dari penduduk sekitar dikawasan pemakaman Sei Mati tempat Fajar menyewa kos-kosan sejak duduk dibangku perkuliahan tersebut, rasa penasaran terkait tuduhan terhadap dirinya sebagai anggota dari organisasi terlarang kembali menimbulkan pertanyaan baru.


"Bagaimana seorang pemuda ramah dan baik seperti itu bisa terlibat organisasi terlarang?"


Ungkap seorang wanita paruh baya bernama Surti pemilik kios tempat keseharian Fajar membeli kretek kesayangannya kepada suaminya Faisal.


"Akh, manalah mungkin dia anggota teratai merah, sedangkan dia saja kita kenal orang yang sopan dan nggak mau tau urusan politik jadi bisa saja salah orang".


"Iya, aku juga tidak paham bang. Padahal ketika muda-mudi disini sedang sibuk-sibuknya urusan politik untuk pemilihan gubernur ia seolah-olah tidak ambil perduli, bisa saja ini cuma permainan intelejen ya bang?"


Mendengar ungkapan istrinya tersebut, wajah Faisalpun spontan memucat.


"Huusst, hati hati kalau bicara, Jika mereka dengar habislah kita"


Mendengar desas desus dari pasangan suami istri tersebut, Sarwo langsung mendatangi mereka berdua dan langsung menghujam dengan beberapa pertanyaan.


"Apa kalian mengenal pemuda yang kami maksud tadi?" Siapakah gerangan dirinya, dan kearah manakah dia melarikan diri tadi?"


Dengan gelagapan karena rasa takut menghantui dirinya mengingat lawan bicaranya adalah seorang perwira militer yang dikenal cukup sadis dalam bertindak membuat suara yang keluar dari mulut Faisal terbata-bata.


"Aa anu pak, saa saya dan ii istri saa saya tii tidak taa tahu aa apa aa apa pak"


Alis tebal sarwo langsung terangkat mendengar jawaban dari Faisal. Tatapan sinis pun melekat di kedua bola matanya.


"Betulkah kalian tidak tahu?" Tidak maukah kalian membantu negara kalian untuk meringkus musuh negara?" "Atau jangan paksa saya untuk memaksa kalian membuka mulut," ancamnya kepada kedua pasangan suami istri itu.


Mendengar ancaman dari Sarwo, dengan pertimbangan tak ingin ambil resiko Surti langsung angkat suara.


"Baiklah pak, kami akan jelaskan apa yang kami tahu,"


Mendengar ungkapan kebersediaan Surti, bibir sarwopun spontan tersenyum sinis.


"Baiklah ceritakanlah segera," tandas Sarwo.


"Begini pak, Pemuda itu bernama Fajar. Ia ngekos didaerah sini dan ia sering beli rokok disini setiap harinya usai pulang bekerja" Hanya itu yang kami ketahui pak, sungguh.."


"Benarkah?" Tanya sarwo kembali. "Lalu ia lari kearah mana tadi" tanyanya kembali.


"Kami tidak tahu kemana tujuannya tadi, namun ia lari kearah barat melalui gang-gang sempit yang ada didaerah sini pak" jelas Surti singkat.


Mendapatkan informasi tersebut, Sarwo pun menyuruh pasukannya untuk menggeladah kos yang disewa oleh Fajar. Dengan mengambil sedikit informasi lagi dari penduduk Sarwo segera mendatangi kamar kos milik Fajar.


Rapat Mendesak


Tanpa sekalipun menoleh kearah belakang, Fajarpun berlari sekencang-kencangnya menelusuri lorong-lorong diantara gang-gang kecil. Genangan becek yang coba menghadang langkah seribunya itu tak menjadi soal, dalam benaknya hanya ada satu hal, yaitu meloloskan diri dari upaya penangkapan yang dipimpin letnan Sarwo.


Namun pelariannya terhenti dihadapan sebuah tembok bercat putih yang berada didalam sebuah gang bernama gang buntu. Fajarpun memperhatikan sekeliling lokasi, namun ia tidak menemukan satu orangpun yang berada disana. Suasana sepi yang ada di gang buntu tersebut dikarenakan gang ini berada di areal pemakaman umum yang banyak ditumbuhi puhon beringin dan kamboja.


"Saya rasa sudah aman, tidak ada lagi siapa-siapa disini" Fajar membatin.


Diambilnya sebuah slayer merah yang ada dikantung celana kanannya lalu dililitkannya di lehernya dan mulai mengetuk sebanyak tiga kali didinding bercat putih yang membatasi tanah perkuburan dengan sungai.


Tok..tok..tok


Lalu secara otomatis sebagian kecil dari dinding tersebut terbuka dan masuklah Fajar kedalamnya.


"Kau terlambat anak muda," suara berat menyambut kedatangan Fajar didalam ruangan gelap namun luas itu.


Fajar hanya terdiam tertunduk, menyadari kesalahan yang dilakukannya. Seketika itu pula suasana berubah begitu hening, walaupun dalam suasana yang gelap dapat diketahui jumlah orang didalam ruangan itu cukup banyak.


Namun tiba-tiba saja lampu didalam ruangan tersebut menyala sehingga membuat ruangan itu terang benderang. Didalam ruangan itu terdapat berbagai jenis lukisan klasik dari dalam dan luar negri. Ukiran-ukiran kayu serta pernak-pernik yang ada disana begitu mewah seperti perkakas milik raja-raja. Suatu keadaan yang sangat kontras sekali, dibalik pemakaman umum ternyata terdapat satu ruangan yang indah nan agung didalamnya.


Didalam ruangan tersebut juga tersedia satu buah meja besar dan panjang serta kursi yang tersusun memanjang yang terbuat dari bahan kayu jati asli. Akan tetapi dikursi-kursi tersebut semuanya telah terisi dengan setiap orang yang dilehernya terlilit slayer berwarna merah yang diantaranya terdapat Fajar. Namun ditengah meja panjang itu terdapat satu orang yang memakai jubah dilengkapi penutup kepala serta mengenakan topeng berwarna putih. Dapat ditebak ia adalah pemimpin kelompok pemberontak ini.


"Baiklah sepertinya sudah kumpul semua, kita harus memulai rapat ini segera mungkin karena tanggal 1 Mei hanya tinggal seminggu lagi," ucap sang pemimpin dengan suara berat.


Tidak ada yang tahu sosok wajah dibalik topeng tersebut, namun orang-orang menyebutnya sebagai Lenin yang agung.


"Bung Fajar, sudah siapkah propaganda yang akan kita sebarkan sebelum 1 Mei nanti?".


Fajar tertunduk lesu mendengarkan pertanyaan dari pemimpin besar organisasi terlarang ini.


"Sudah kamerad, tapi saya melakukan sebuah kesalahan fatal, sebab dalam perjalanan menuju kemari saya sempat terjebak pada razia yang dilakukan serdadu militer,"


"Lalu??" Tanya pria misterius itu kepada Fajar.


"Maafkan saya kamerad, saya takut tertangkap dan terpakasa melarikan diri sehingga menjatuhkan sub copy propaganda untuk 1 Mei itu,"


"Apaaaa??" "Kau telah melakukan hal yang tolol, tahukah kau perkumpulan rahasia kita akan terbongkar jika mereka membaca propaganda kita itu, markas kita akan dengan mudah mereka temukan, karena di kepala sub copy propaganda itu terdapat alamat markas kita?," bentak sang pemimpin.


"Maafkan aku kamerad, aku siap dihukum" Fajar pun pasrah dengan hukuman yang akan diterimanya.


"Sebuah tindakan fatal harus dibayar dengan nyawa, maafkan aku. Ini demi cita-cita kita,". "Matahari harus bersinar". Gumam sang pemimpin.


"Tunggu dulu" Salah satu anggota rapat ambil suara sebelum pemimpin kelompok ini mengeluarkan pistol dibali jubahnya.


"Jangan khawatir saudara-saudara, gulungan propaganda kita aman," Maun pun berceloteh tentang razia itu.


"Ketika razia itu terjadi, aku sedang berada didalam rombongan tentara seperti biasa sedang melakukan razia keamanan,". " Tapi Fajar tanpa sadar datang melintasi lokasi razia dan terpaksa harus dirazia karena gerak-geriknya mencurigakan," Jelas Maun.


Lalu Maun menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Ketika Fajar digeledah ia menjatuhkan gulungan sub copy propaganda serikat kita, dan langsung kabur ketika menyadari resiko maut yang akan dihadapinya ketika militer mengetahui siapa identitasnya,".


"Beruntung, para serdadu itu terpancing untuk mengejar Fajar ketimbang gulungan propaganda milik kita, sehingga diam-diam saya bisa menyelamatkannya," ucap Maun sambil menyerahkan gulungan sub copy itu di meja rapat.


"Beruntung kau Fajar, tidak sia-sia kita menyusupkan intelijen ditubuh militer," ujar pemimpin agung.


"Baiklah, semuanya tidak ada masalah lagi. Mari kita mulai bekerja. 1 Mei harus terjadi perubahan," tandas sang pemimpin.


Dilain tempat, Letnan Sarwo yang tengah mengobrak abrik kos milik Fajar merasa kesal karena tidak dapat mendapatkan petunjuk apapun.


"Ayo bubar semua, sepertinya pemuda itu bukan siapa-siapa, tidak ada petunjuk sama sekali yang menjelaskan dia sebagai anggota organisasi terlarang," perintah Sarwo kepada seluruh anggotanya


Beraksi


Seminggu menuju tangggal 1 Mei organisasi Teratai Merah telah melancarkan propagandannya tanpa sepengetahuan pemerintah. Propaganda-propaganda tersebut menyebar keseluruh buruh di setiap pabrik-pabrik yang ada dikota Medan. Walaupun begitu, intelijen pemerintah telah mampu memprediksi dengan jelas 1 Mei yang akan jatuh beberapa hari lagi akan dipastikan berlangsung chaos.


Untuk menghindari ancaman tersebut seluruh kesatuan militer akan dikerahkan termasuk intelijen profesional yang telah dilatih bertahun-tahun menghadapi keadaan seperti ini, dan target utamanya adalah Teratai Merah.


"Hasil kesepakatan kita sudah jelas dengan para buruh, tuntutan kita satu yaitu perubahan," tegas Fajar kepada Maun.


"Tentu saja, tapi tugasku sangatlah sulit. Sepertinya gerak-gerikku di tubuh militer sudah dicurigai," cerita Maun yang khawatir akan keberhasilan aksi kali ini.


"Ini resiko kita kamerad, walaupun nyawa jadi taruhannya, ini demi ibu pertiwi, Matahari akan bersinar diseantero nusantara," dada Fajar membusung gagah seiring agitasinya kepada Maun sahabatnya.


"Heheee...tak salah ibumu memberikan nama Fajar. Semoga kau bisa jadi secerca cahaya dikegelapan nusantara kita ini"


"Semoga saja, besok sudah 1 Mei, aku sangat gelisah," ucap Fajar.


Mentari pagi telah menyinari kota Medan, ribuan buruh dengan mengenakan kaos berwarna merah telah memadati sepanjang jalan lapangan merdeka. Namun hanya belasan orang saja yang mengenakan slayer merah di lehernya. Mereka adalah anggota Teratai Merah.


Suasana kota Medan ketika itu dipastikan sangat mencekam. Aktifitas ekonomi seluruhnya lumpuh. Sedangkan ratusan personil TNI/Polri telah berjaga-jaga disejumlah titik lokasi vital.


"Ini sungguh gawat, negara dalam bahaya," Letnan Sarwo menggerutu ngeri sambil menyulut rokok kretek dimulutnya.


"Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa Letnan, Amerika telah melarang untuk melakukan pembantaian, karena dunia lagi mengkampanyekan HAM," ungkap salah seorang perwira Militer sahabat Sarwo bernama Edi yang bertugas di kesatuan intelijen.


"Persetan dengan Mereka, ini negara kita. Kita yang atur kok di intervensi kayak gini,"


"Yah, tapi ingatlah. Negara kita berhutang banyak pada Amerika,"


"Haah Sialan" Sarwo pun beranjak dari kursinya untuk segera bergegas kelokasi demonstrasi.


Namun tiba-tiba saja entah siapa dalangnya tiba-tiba saja sebuah ledakan terjadi ditengah-tengah kerumunan buruh. Sejumlah orang tergeletak bersimbah darah dan dapat dipastikan ratusan buruh tewas seketika.


"Sialan ada penyusup," Fajar menggerutu.


Para buruh yang mengira ini adalah ulah militer langsung maju dan menyerang para personil TNI/Polri yang melakukan penjagaan. Aksi damai berubah menjadi kerusuhan.


Aksi lempar batu dan molotov diarahkan kepada petugas keamanan. Begitu juga water canon dan gas air mata diarahkan kepada para buruh yang berdemonstrasi. Namun karena kalah jumlah akhirnya petugas pun terpaksa mengeluarkan senjata api untuk membubarkan paksa dan pembantaian massal dimulai.


"Sialan CIA terlibat, ini kacau intervensi dunia begitu kuatnya," ucap Edi pada Sarwo.


"Tapi kita harus bertindak, ini status quo. Militer punya tugas penting"


"Akhh itu bunuh diri wo, kita akan diembargo PBB," Edi coba mencegah niat Sarwo.


"Kau sebagai intelijen negara telah gagal, kini serahkan pada kami untuk menyelamatkan ibu pertiwi," tandas Sarwo.


Suara letusan senapan api dan ledakan molotov terdengar membahana dipusat kota Medan. Mobil-mobil dibakar ratusan orang terluka parah dari kedua belah pihak dan tak kalah jumlahnya dari kedua belah pihak yang tewas. Kota Medan bak neraka.


Berjam-jam bentrok terus terjadi, hingga sebuah bom kembali meledak begitu dahsyatnya dan bentrokpun berhenti dengan sendirinya.


Akibat peristiwa itu seribu orang dari kubu demonstran meninggal dunia dan delapan ratus personel gabungan TNI/Polri juga tewas. Selebihnya luka-luka parah dan ringan. Namun yang sangat disayangkan seluruh anggota teratai merah tewas tanpa bersisa, yang tinggal hanyalah pemimpin agung yang tetap berada di markas rahasia ditanah perkuburan.


Menyikapi peristiwa besar ini beberapa hari kemudian PBB langsung melakukan penekanan terhadap pemerintah Indonesia, hal yang langsung dimanfaatkan partai oposisi untuk menggulingkan presiden dan mengambil alih kekuasaan.


Tak mau disalahkan sendiri, presidenpun mengkambing hitamkan militer yang bertindak konyol, sedangkan para jendral militer menyalahkan Letnan Sarwo sebagai biang keladi sehingga iapun dipecat dari kesatuan.


Sedangkan para pengamat politik menilai peristiwa ini beragam. Ada yang mengatakan ini ulah CIA dan adapula yang mengayakan ini awal revolusi yang dilakukan kelompok Teratai Merah.


Namun didalam tanah perkuburan, dihadapan televisi pemimpin agung Teratai Merah tampak santai menyeruput kopi hitam buatannya sambil menyaksikan tayang berita tentang peristiwa perayaan hari buruh internasional yang berujung maut dan membuat perubahan suhu politik di Indonesia.


"Ini belum selesai, bukan revolusi seperti ini yang kuharapkan,"


"Tapi bukan berarti perjuangan saudara-saudaraku yang gugur demi terciptanya perubahan sia-sia belaka"


"Revolusi belum selesai, ini adalah awal, sang Fajar sudah muncul, niscaya matahari akan mengusir kegelapan" ungkap lelaki misterius yang berada dibalik jubah bertopeng itu didalam hati.


medan,

dear friend

rozie winata guchi

juli 2012


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar